SELASA, 23 MARET 2010
Ruang Hidup Becak Yogyakarta
Oleh Harry van Yogya
SEBUAH impian yang ada dalam kepala tukang becak di Yogyakarta adalah tersedianya ruang bagi mereka. Becak yang sudah menjadi ikon kota budaya ini seyogianya memiliki beberapa ruas jalan khusus yang ditandai misalnya dengan papan bertuliskan, ''Becak/Bike/Andong Only''.
Menjadi impian karena kenyataannya ruas jalan yang memang diperuntukan bagi becak, sepeda, andong, dan kendaraan tak bermotor lainnya justru terganggu oleh hal lain. Banyak pedagang kaki lima (PKL) dengan seenaknya memarkir sepeda motor dan gerobak barang dagangannya di tepi ruas jalan itu.
Penanganan masalah yang satu ini selalu dirasa lambat dan juga kelihatan tidak tegas. Operasi penertiban yang dilakukan oleh personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sering kali tercium oleh para pedagang.
Atau, biasanya PKL yang ada di ujung Jalan Malioboro, tepatnya di depan Hotel Garuda akan memberi tahu teman sesama pedagang yang ada di bawahnya atau bagian selatan bila akan ada operasi penertiban. Pasalnya, penertiban biasa dilakukan dari depan Hotel Garuda menyusur ke selatan ke arah Pasar Beringharjo.
Tentu saja para pedagang kaki lima ini akan menyingkirkan gerobak pengangkut barang dagangannya pergi dan memindah motor yang tadinya mereka parkir di tepi jalan dekat mereka berjualan.
Tersitanya sebagian ruas jalan itu tentunya sangat mengganggu tukang becak dalam memarkir becaknya untuk mencari atau menunggu penumpang. Ruas jalan yang diperuntukan bagi kendaraan tidak bermotor ini semakin semrawut karena selain banyak gerobak dan motor pedagang kaki lima yang diparkir di ruas jalan itu, banyak pejalan kaki menggunakan ruas jalan tersebut.
Gambaran Jalan Malioboro yang bebas dari kendaraan bermotor serta nyaman buat wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman) hanya menjadi cerita lama yang sekarang mulai hilang.
Bahasa Asing
Penanganan transportasi becak di kota budaya Yogyakarta sebenarnya sudah dianggap lebih baik dari kota-kota lainnya. Selain kaya akan kunjungan turis, baik domestik maupun mancanegara, saat ini pun akan ada pendataan kendaraan dan tentu saja ke depan ada penertiban dan pajak.
Secara pribadi saya dan teman-teman tukang becak menyambut baik hal ini. Mengingat keterlibatan pemerintah daerah yang selalu akomodatif dengan keberadaan becak, perlu pula ditingkatkan sumber daya tukang becaknya sendiri. Beberapa pelatihan bahasa asing pernah dilakukan, meskipun tidak terjadwal rutin.
Para tukang becak sendiri pada dasarnya adalah sumber daya yang layak dilibatkan kerja samanya. Secara psikologis,''ruang'' dimaksud tentu saja merupakan ruang bersama, yang akan menjalin sebuah mutualisme. Pemda di satu sisi dan pemberdayaan ekonomi di sisi lain.
''Ruang'' ini juga yang akan menjadikan tukang becak belajar secara tersistem. Artinya, kesadaran akan belajar untuk saling menghargai keberadaan turis, dan belajar mengakses sistem yang dibuat pemerintah. Simbiose ini seharusnya menghasilkan sebuah suasana di mana sarana dan prasarana terus dibenahi oleh pemerintah.
Secara fisik becak-becak pun perlu dipercantik dengan instrumen artistik khas Jogja (sebutan lain kota Yogyakarta untuk lebih mendekatkan dengan ''lidah'' dan ''telinga'' wisman). Turis adalah sebuah aset ekonomi bagi mereka. Dengan menghargai dan memberikan pelayanan yang baik, tukang becak akan lebih berdaya secara finansial.
Dalam hal ini pendapatan utama, tukang becak lebih berharap pada keberadaan turis, atau orang luar Jogja. Pengguna transportasi rakyat ini memang telah bergeser, penduduk lokal sudah tidak lagi menjadikan becak sebagai angkutan utama, mereka telah menggunakan transportasi bermotor, yang notabene menjamur dan mudah didapatkan.
Saya yakin pemerintah kota mampu mengakses ''ruang'' untuk itu. Tentu saja dengan pendekatan yang lebih santun dan niat baik bersama. Pemberdayaan ini tentu saja akan menghasilkan input
yang berharga dalam rangka peningkatan pariwisata.
Semoga ada nuansa kebangkitan dari sebuah profesi yang selama ini dianggap rendah. Semoga pula punya nilai budaya baru, di mana kepeloporan transportasi rakyat mampu memberdayakan dan menghasilkan sesuatu yang saling menguntungkan. (Harry van Yogya
, tukang becak di Yogyakarta, yang senang mencari pelanggan lewat
facebook: Harry van Yogya atau email
: harry_blas@yahoo.com)
============================================


terus menulis... usahakan selalu tampil di media.. gbu..
BalasHapusnice post..
BalasHapussaya ingin menambahkan saran untuk tulisan mas.
dalam format tulisan mas, tidak ada pembagian alinea/ paragraf yang jelas. ke depannya bisa diberikan jarak antara 1 paragraf dengan paragraf selanjutnya.Sehingga tidak menciptakan kesan menumpuk. idealnya 4 - 7 baris per paragraf.
itu saja dari saya..
@ om Wid : akan aku usahakan om
BalasHapus@ Lexi : Thx atas saran sarannya, mudah mudahan tulisanku ke depan akan lebih baik baik dlm isi, format maupun cara pemaparan. Saran dan kritiknya akan selalu aku harapkan..