Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Laman

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Minggu, 30 Mei 2010

Membangun Pariwisata Jogja

Harian Jogja, 29 Mei 2010


Jogja adalah kota yang sangat menarik. Banyak predikat melekat pada kota yang satu ini. jogja sebagai Kota Perjuangan, Kota Budaya, Kota Pendidikan dan juga Kota Wisata. Orang yang tinggal di kota ini berasal dari beragam bangsa,baik Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA). Mereka menuntut ilmu ataupun bekerja di sini.

Masyarakat juga terdiri atas berbagai macam suku, agama, ras dan golongan. Uniknya di tengah segala macam perbedaan tersebut, warga Jogja tetap bisa hidup guyup rukun, berdampingan dan damai. Bahkan jarang sekali atau lebih tepatnya tidak pernah terjadi gejolak yang cukup berarti. Hal ini membuat orang merasa nyaman dan betah bermukim di Kota Gudeg.

Sebagai Kota Wisata, pemerintah daerah telah banyak berupaya untuk menarik banyak wisatawan. Baik wisatawan manca negara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnu). Berbagai macam perhelatan dengan tujuan promosi juga acapkali digelar. tapi hal seperti ini bukan satu satunya cara meningkatkan animo kunjungan wisatawan.

Ada banyak hal di sektor wisata yang perlu diperbaiki. Menurut hemat penulis, perlu penanganan yang lebih komprehensif menyangkut perbaikan sarana dan prasarana. Dan yang terpenting ialah pembenahan sikap pelaku bisnis pariwisata itu sendiri. Sehingga suasana aman dan nyaman yang sangat didambakan oleh para wisatawan benar-benar bisa diwujudkan.

Kota Pasar

Kalau kita perhatikan, banyak sekali bermunculan pedagang di Kota Jogja. Mereka kita temui di setiap sudut. Mulai dari makanan/minuman, cinderamata dan berbagai barang kerajinan khas Kota Jogja

Keberadaan mereka memang tidak bisa disalahkan, karena mereka memang memanfaatkan peluang untuk mencari nafkah. Yakni dengan menawarkan barang dagangannya kepada wisatawan yang sedang berkunjung.

Ironisnya, semakin hari gejala ini semakin tidak teratur. Ibarat pepatah, "Ada gula ada semut", mereka menjajakan atau menggelar barang dagangannya di sembarang tempat. Di halaman hotel, tempat parkir bis pariwisata, di trotoar dan tempat lain di mana ada banyak wisatawan berkumpul. Itu menjadikan suasana Jogja kian semrawut. Singkat kata seperti kota pasar saja,karena di mana-mana dijumpai orang berjualan.

Pada setiap musim liburan, alun-alun Utara di depan Keraton dipenuhi pedagang. Hal ini tentunya sangat mengganggu dan merusak pemandangan kemegahan Keraton yang ingin dinikmati wisatawan. Alangkah baiknya kalau pemerintah daerah mulai memperhatikan dan menertibkan para pedagang tersebut. Tentu harus dengan cara yang bijaksana dan santun, sehingga dampaknya tidak kontraproduktif terhadap masayarakat, khususnya para pedagang.

Tatkala berkeliling menikmati suasana Kota Jogja, ada banyak pilihan alat transportasi. Selain tersedia bus,taksi, ada juga andong dan becak. Bahkan andai ingin mengelilingi kota sendirian bisa juga dengan menyewa sepeda motor atau sepeda onthel. Di antara beberapa jenis alat transportasi di atas, becak masih menjadi pilihan utama, karena disamping murah juga bisa menjangkau tempat-tempat yang tidak tersentuh oleh alat transportasi lain.

Sayangnya, belakangan ini banyak tukang becak yang bersikap kurang simpatik dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan. Baik terhadap wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Mereka hanya mengejar keuntungan pribadi, tanpa memperhatikan aturan main dan norma yang tepat bagi seorang penjual jasa.

Kini saatnya pemerintah daerah bekerjasama dengan Dinas Pariwisata turun tangan memberikan pengertian kepada para tukang becak. Perihal bagaimana sebaiknya bekerja secara bertanggungjawab. Dengan dilandasi semangat pelayanan kepada para wisatawan yang sedang berkunjung. Bukankah dalam tradisi kejawen, tamu dianggap sebagai seorang raja.

Konkretnya, pemerintah daerah bisa mengumpulkan para tukang becak untuk diberi pengarahan menjadi pemandu yang baik. Tak kalah penting ialah pelatihan bahasa asing, karena Jogja adalah daerah tujuan wisata kedua setelah Bali, sehingga banyak dikunjungi wisatawan manca negara.

Pertemuan para tukang becak dengan pemerintah daerah dan Dinas Pariwisata sebaiknya diadakan secara rutin. Tentu tidak bisa semua tukang becak dikumpulkan bersama dalam satu waktu. Perwakilan dari paguyuban becak yang ada bisa datang ke pertemuan secara bergiliran. Sehingga semuanya menjadi paham tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh para tukang becak saat melayani wisatawan.

Malioboro kini

Tempat yang tidak pernah dilewatkan oleh pelancong ialah Malioboro.Para wisatawan merasa belum ke Jogja kalau belum mengunjungi Malioboro. Jalan Malioboro dari dulu sampai sekarang merupakan jalan yang tidaak pernah tidur. Mulai dari pagi sampai pukul 21.00 WIB, pusat pertokoan dan pedagang kaki lima (PKL) membuka usaha berjualan barang. Baik barang yang lazim dijual di pusat perbelanjaan maupun souvenir khas Jogja.

Setelah pukul 21.00 WIB, mereka menutup tempat usaha tersebut dan kehidupan malampun menggantikannya. Sepanjang Jalan Malioboro, tepatnya di trotoar depan pertokoan, para pedagang makanan mulai membuka usaha berjualan makanan. Di sebelah kanan dan kiri Jalan Malioboro dipenuhi pedagang lesehan.

Para pengamenpun mulai beraksi memberikan hiburan bagi orang yang sedang menikmati makanan dengan duduk santai di tikar. Tidak selamanya kehadiran para pengamen tersebut menjadi hiburan, bahkan seringkali malah membuat suasana menjadi kurang nyaman.

Kelompok pengamen yang dulu piawai memberikan hiburan dengan memainkan musik dan melantunkan beberapa lagu kini kian langka. Mereka memilih menjadi pengisi acara di sejumlah kafe dan restoran. Yang ada sekarang ialah pengamen perorangan, dan karena perorangan makanya sebentar-bentar ada saja yang datang mengamen.

Pada saat menunggu pesanan makanan, tidak jarang sudah puluhan pengamen yang datang denagn alat musik sederhana. Hal ini tentunya sangat mengganggu orang yang mau menikmati suasana malam. Para pengamen perlu bersatu membentuk kelompok-kelompok pengamen, sehingga lebih bisa menimbulkan suasana yang mengasyikkan bagi pengunjung yang menikmati makan malam di lesehan Malioboro.

Selain itu juga masalah harga. Meskipun di sana sudah banyak terpajang papan peringatan agar wisatawan minta daftar menu dan harga, tapi masih juga ada pedagang makanan nakal 'memukul' dengan harga tarif tinggi. Selama ini belum pernah ada wisatawan yang melaporkan kejadian ini. kalau dibiarkan terus menerus justru bisa membuat orang enggan makan di Malioboro, sehingga pada akhirnya merugikan para pedagang makanan itu sendiri.

Akhir kata, dalam pengembangan Jogja sebagai Kota Wisata diperlukan peran serta dari semua pihak. Baik pemerintah daerah, Dinas Pariwisata, pelaku bisnis pariwisata, dan masyarakat. Keterlibatan dan kerjasama semua orang yang mencintai Ngayogyakarta Hadiningrat niscaya bisa mendongkrak jumlah wisatawan yang berkunjung ke sini, sehingga otomatis meningkatkan pula pendapatan dan kesejahteraan warga...